Lompat ke konten

GEOSITE POTRO BUNDER

  • oleh
Situs Warisan Geologi

Gua Potro Bunder

Sebelumnya gua ini merupakan dua gua yang terpisah, yaitu Gua Potro dan Gua Bunder yang letaknya berdekatan. Penggalian kalsit dan fosfat guano di masa lalu menyatukan menjadi satu lorong . lensa-lensa kalsit di dalam batugamping berlapis Formasi Wonosari menyusun sebagian besar dinding lorong gua. Sedimen berwarna coklat muda di dasar gua bercampur dengan endapan fosfat guano yang dibentuk oleh reaksi kimia antara air kencing dan kotoran kelelawar dengan batugamping. Fosfat guano ini dimanfaatkan menjadi pupuk.

Previously this cave was two separate caves, namely Potro Cave and Bunder Cave which were located close together. Quarrying of calcite and phosphate guano in the past unites into one passage. Calcite lenses in the layered limestones of the Wonosari Formation make up most of the walls of the cave passage. The light brown sediment at the bottom of the cave is mixed with deposits of phosphate guano formed by a chemical reaction between bat urine and excrement and limestone. Guano phosphate is used as fertilizer.

Tumpukan cangkang moluska dan biji kemiri di dasar gua yang ditafsirkan sebagai sisa makanan manusia prasejarah menunjukkan bahwa gua pernah menjadi hunian sementara.

Nilai spiritual gua yang tinggi menjadikannya sebagai tempat untuk bertapa di masa lalu. Penduduk di sekitar gua percaya bahwa di dalam gua terdapat makan dua tokoh sakti di zamannya, yaitu Ki Suroyudo dan Ki Wonopotro.

Piles of mollusk shells and hazelnut seeds at the bottom of the cave which are interpreted as leftover food from prehistoric humans indicate that the cave was once a temporary residence.

The cave’s high spiritual value makes it a place for meditation in the past. Residents around the cave believe that in the cave there are tombs of two powerful figures of their time, namely Ki Suroyudo and Ki Wonopotro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *