Tradisi bersih desa atau lebih dikenal dengan nama rasulan, dahulu diadakan sebagai wujud rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berkat hasih panen yang melimpah. Hal ini sesuai dengan mayoritas penduduk Gunungkidul yang bermata pencaharian sebagi petani. Namun pada perkembangannya saat ini , tradisi rasulan dilakukan oleh semua elemen masyarakat dengan berbagai macam profesi yang dijadikan agenda tahunan.
Rangkaian acara bersih desa meliputi kenduri, arak – arakan gunungan, pentas kesenian daerah dan pagelaran wayang . Setiap desa di kabupaten gunungkidul melakukan prosesi tradisi rasulan pada tanggal yang sudah ditentukan oleh masing – masing desa, perhitungannya menggunakan kalender jawa. Rasulan diadakan sebagai wujud menjaga tradisi untuk diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
The clean village tradition or better known as the apostle, was once held as a form of gratitude to God Almighty for the blessings of an abundant harvest. This is in accordance with the majority of the population of Gunungkidul who make a living as farmers. However, in its current development, the apostolic tradition is carried out by all elements of society with various professions which are used as an annual agenda.
The series of village clean-up events include feasts, mountain processions, regional art performances and wayang performances. Every village in Gunungkidul Regency carries out a procession of the Apostles’ tradition on a date that has been determined by each village, the calculation is using the Javanese calendar. Rasulan is held as a form of maintaining tradition to be passed on to the next generation of the nation.