Situs Warisan Geologi
Gua Tabuhan
Gua tabuhan mempunyai lorong mendatar sepanjang 105 meter, berarah barat- timur. Ruangan pertama dihiasi oleh stalaktit yang memanjang dan melengkung ke arah mulut gua (bio stalaktit). Pelengkungan dikendalikan oleh jamur yang hidup di ujung stalaktit. Jamur itu memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis. Di mulut gua, stalaktit bercampur dengan rock-pendant yaitu sisa pelarutan batugamping. Ruangan kedua yang mempunyai atap lebih rendah berakhir pada sebuah lubang kecil yang buntu.
Tabuhan Cave has a 105 meter long horizontal passage, trending west-east. The first room is decorated with stalactites that extend and curve towards the mouth of the cave (bio stalactites). The warping is controlled by a fungus that lives on the tips of the stalactites. The fungus requires sunlight for photosynthesis. At the mouth of the cave, stalactites are mixed with rock-pendant, which is the remnant of dissolving limestone. The second room which has a lower roof ends in a small blind hole.
Dasar gua dilapisi oleh sedimen berwarna coklat, mengandung sisipan tuf berwarna putih. Pada tahun 1955,Van Heekeren melakukan penggalian dan menemukan sisa-sisa tulang vertebrata dan artefak batu. Ini membuktikan gua pernah dihuni oleh manusia prasejarah di masa lalu. Pada zaman Perang Diponegoro (1825 – 1830) gua menjadi tempat bertapa Sentot Prawirodirjo, seorang panglima perang.
Sekumpulan stalaktit, karena kering dan berongga, jika dipukul akan mengeluarkan nada gamelan tertentu. Diiringi gendang dan nyanyian pesinden, terciptalah musik tradisional gamelan di dalam gua. Gua sudah dikunjungi orang sejak abad 19 yang diketahui melalui grafiti yang dipahatkan pada stalaktit dan flowstone.
The bottom of the cave is covered with brown sediment, containing white tuff inserts. In 1955, Van Heekeren excavated and found remains of vertebrate bones and stone artifacts. This proves that the cave was inhabited by prehistoric humans in the past. During the Diponegoro War (1825 – 1830) the cave became the place of meditation for Sentot Prawirodirjo, a warlord.
A collection of stalactites, because they are dry and hollow, when hit, they emit certain gamelan notes. Accompanied by drums and singing of singers, traditional gamelan music is created in the cave. The cave has been visited by people since the 19th century which is known through graffiti carved on stalactites and flowstones.