Kesenian tradisional tari golek ayun – ayun dan jathilan menghibur pengunjung  GTF #2 . Sebagai pembuka acara, untuk menyambut tamu undangan dan pengunjung, ditampilkan tarian golek ayun – ayun dengan 2 penari. Tari golek ayun-ayun merupakan tari klasik khas Yogyakarta yang menceritakan seorang gadis tumbuh beranjak dewasa yang suka berias diri atau bersolek. Tarian ini mengandung makna filosofis dan estetika (nilai-nilai keindahan) yang terkandung didalamnya. Tujuan dari tarian ini adalah untuk menyambut tamu kehormatan dan juga untuk mengisi acara-acara besar kerajaan. Tarian ini biasanya ditarikan oleh 2 penari wanita yang cantik dan lemah gemulai, tetapi bisa juga lebih dari 2 orang.

Siang harinya, pengunjung dihibur dengan penampilan dari  kelompok kesenian jathilan Nglanggeran. Penampilan dibagi dalam 3 babak, pertama kuda kepang, kedua gedruk , dan yang ketiga adalah penari perempuan.  Jathilan adalah kesenian yang dikenal di masyarakat Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Kesenian ini dikenal juga dengan nama kuda lumping, kuda kepang atau jaran kepang. Jathilan merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis dimainkan dengan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Asal kata jathilan berasal dari Bahasa Jawa, yaitu “jaranne jan thil-thilan tenan,” dalam bahasa Indonesia artinya “kudanya benar-benar joget tak beraturan”.  Joget tak beraturan (thil-thilan) bisa dilihat ketika para penari telah kerasukan. Dipentaskannya kesenian tradisional pada acara GTF #2 sebagai salah satu upaya memperkenalkan dan menjaga kelestarian kearifan lokal.



11-03-2020 Dibaca 177 Kali